Senin, 04 Februari 2013

Lilinku Part 6 : Kalimat Indah Di Sore Itu



Mentari kembali menyinari dunia ini. Dunia yang semakin penuh dan sesak yang ku rasa. Waktunya kembali ke kegiatan belajar. Banyak kejutan yang aku alami di minggu kemarin. apakah di minggu ini akan ada kejutan juga. Entahlah. itu masih rahasia tuhan. Tas gendong, seragam sekolah, sepatu hitam. Aku siap untuk berangkat. 

Dalam perjalanan menuju sekolah, sempat aku berpikir tentang Aika. Apakah yang akan terjadi? Ah… kenapa pikiran ini hanya ada namanya sih? Bukan karena aku suka dia. Tapi aku bingung. Jelas saja bingung. kenapa gadis seperti Aika bisa menyukai seorang laki-laki seperti aku? Ya sudahlah, untuk apa membebani pikiranku dengan hal yang seperti itu. Membuatku pusing dan mungkin bisa membuatku ngelamun seharian.
Setengah hari sudah aku lalui, dengan waktu-waktu yang agak sedikit membosankan di ruangan kelas. Dan waktunya aku pulang. Kegiatan seperti biasa. Keluyuran sebentar, lalu ke bukit, terus pulang. Tapi untuk kali ini aku urung melakukan hal itu. Sehabis sekolah aku pulang. Entah kenapa aku tiba-tiba rindu dengan rumahku. Hah apa karena kejadian kemarin? Entahlah. Ku rebahkan diriku yang sudah agak lelah ini. Ku tatap langit-langit kamar. Terbaynglah wajah Aika dengan senyumannya yang manis itu. menghiasi langit-langit kamarku. 

Tadi pagi aku melihatnya cukup berbeda dari biasanya. Dia terlihat semakin bebas tanpa beban. Entahlah ini mungkin hanya pikiranku saja. Sempat kami bertatapan barang sebentar. Oh tatapannya itu membuatku terhipnotis. Terasa ada magnet yang menarikku untuk mendekat dengannya. Seakan dia memanggilku dengan tatapannnya  Tapi otak ini masih bisa mengalahkan perasaanku. aku masih bisa mengelak akan panggilan dari tatapannya itu. Tapi satu hal yang tak bisa dipungkiri, aku tak henti-hentinya memikirkan dia. Dia yang memenuhi pikiranku saat ini. Tapi bagaimanakan perasaan ini menterjemahkannya? Masih tak ada respon apapun.   
 
Lelah rasanya aku memikirkan hal itu. Hal yang mungkin bagiku itu telah mengganggu proses kerja otakku. Dan mataku sudah tak kuat menahan rasa kantukku. Dan akupun terlena akan alam mimpi. Aku terpejam menjelajahi dunia fantasi di alam mimpi yang entah kapan akan berhenti. 

Terlena dengan dunia mimpi sekian detik, sekian menit, dan sekian jam. Hampir 1 jam aku tertidur. Ketika mata ini mulai terbuka dari pintu mimpi. Rumah telah sepi. Terasa membosankan, sendirian di rumah ini. Ayah, sibuk dengan dengan kegiatannya begitupun dengan bibiku. Hanya aku yang tak ada kerjaan untuk hari ini. Apa yang akan aku lakukan setelah ini? Pertanyaan pertama yang muncul dibenakku. Ingin kuluangkan waktu untuk adik-adikku. Tapi sepertinya mereka sedang ada kegiatan tersendiri.
Menoleh ke tempat jaketku digantung, dan kuputuskan untuk ke bukit. Menikmati langit sore. Kegiatan yang rutinaku lakukan. Terpikirkan sesuatu selama menuju bukit terseut. apakah nantinya aku bisa berjumpa dengan Aika di tempat itu lagi? Apakah akan terjadi sebuah kejutan jika nantinya aku bertemu dengan dia? Angan-anganku mulai menjauh kesana kemari. Jangan terlalu dipikirkan. Dan aku pun tak terlalu mau memikirkannya.

Sekian menit menempuh jalan setapak menuju bukit. Dan sekarang aku berada di tempat yang aku tuju. Langit sore yang biasa menemani diriku dalam kesenderianku. Desiran angin seperti menggodaku untuk kembali merajut kisah dalam alam bawah sadarku. Ku rebahkan tubuhku di rumput dan ku tatap langit dengan gumpalan awannya yang entah itu berbentuk dengan bentuk yang kurang aku ketahui. Pintu mimpi hampir terbuka dan ketika aku mulai terbuai terdengarlah suara seorang perempuan. Oh. . . .si Aika. Sempat terkejut dengan panggilannya dan menutup gerbang mimpiku dan aku tak jadi terbuai mimpiku.

“ Kita bertemu lagi Krisnan” kata Aika dengan senyumannya yang ka situ
“Eh…Aika ! Tak ku sangka kita bertemu lagi ditempat ini. “ aku sedikit gemetaran
“Kok kamu grogi begitu. Ada yang salahkah?” 

Ada apa denganku? Kenapa aku jadi kaku dan gemetaran dengan gadis yang ada didepanku ini? Perasaan apa ini? Aku bertanya-tanya dalam hati. Tapi hatiku tak kunjung menjawab. Dan saat itu Aika tersenyum denganku. Dan itu membuatku semakin gak karuan. aku malu. Malu memperlihatkan perasaanku terhadapnya. 

“Kamu grogi yah ada aku?” Aika tersenyum
“Eh enggak kok. Siapa juga yang grogi gara-gara ada kamu” aku mengelak
“Itu kenapa? Pipinya kok merah ! “

                Apa? Pipiki merah ! Aku terkejut ketika dia bilang seperti itu. Aku tak tahu mau jawab apa. Ingin ku bentak perasaanku. Jangan buat aku kaku seperti ini dihadapan Aika. BUatlah normal seperti aku dengan orang lain. Hei … otak tolong bantu aku. Netralkan ini. 

“ Oh ya Kris. Pernyataanku yang bialng aku suka sama kamu itu beneran loh. Aku gak bohong. Kau tahu seneng banget setelah ngungkapin rasa itu ke kamu. Lelaki pujaanku. Rasanya pembatas yang sempat membatasiku hilang. “ Aika tersenyum sambil melihat ke arahku.
“ Ah? pembatas yang membatasimu hilang?” hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku
“ Hemmm aku kan sudah lama memendam itu. seneng deh akhirnya aku berani mengungkapkannya.  Mengungkapkan ini lebih sulit daripada pelajaran yang diterima di sekolah“
Ketika ku mendengar itu. Kami terdiam beberapa menit. Suara desiran angin seperti alunan, dan langit sore yang merekamnya. Dan terucaplah sebuah kalimat dari Aika.
“ Krisnan, Jadilah kau pendampingku. Jadilah kau kekasih hatiku ! “

Otakku membeku. Perasaanku  campur aduk. Menjadi pendamping Aika. Aku tak bisa berpikir. Kata-katanya itu membuatnya semuanya terasa terhenti. Satu detik, dua detik, satu menit. Gelagat tawa Aika membuatku terkejut dengan lamuanku yang disebabkan atas kata-katanya.

“ Hi hi kamu lucu yah ketika bingung kayak gitu. “ kata Aika sambil mengacak rambutku.

Aika, Aika,, Aika, dan Aika. Oh tidak pikiranku tak bisa bekerja. Perasaanku sepertinya juga bingung mau ngapain. Aku malu? Ku akui iya. aku senang dengan apa yang diminta Aika? Dan sepertinya iya. Hatiku men cek lis. Dan lebih dari 50 % itu berkata aku senang dengan dia. Kalimat yang dia lontarkan barusan, indah bagiku.  Iya  Aku senang. Tapi aku tak tahu apa yang ingin aku lakukan. Apakah aku menerima? aku tak tahu. Ahh….. Aku bingung. Gak percaya. Dan itu gak mungkin. 

0 Comments
Tweets
Komentar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar